Pahlawanku
April 22, 2008Ada para pahlawan yang tak pernah tercatat dalam sejarah, atau tertulis dengan tinta emas dan berbagai penghargaan bintang jasa. Bahkan, tak pernah diberikan tundukan kepala mengheningkan cipta dalam upacara bendera.
Ada para pahlawan yang hidup dalam hati kita saja, bersemayam dengan indahnya.
Di tengah era orde lama yang penuh pergolakan, laki –laki ini bertahan hidup dalam segala ketebatasannya. Pada saat itu, kehidupan sangat sulit. Masyarakat kecil hidup dalam kelaparan, makan hanya dengan nasi aron, karung goni dibuat pakaian, tak bisa sekolah, dan setiap saat diintip peluru yang bisa datang dari arah yang tak diduga. Kondisi yang sangat mencekam.
Tapi laki –laki ini berhati baja, dan semangat belajarnya tak pernah surut walaupun harus bekerja lebih keras setiap hari.
Saya jadi teringat kisah dalam novel Laskar Pelangi –nya Andrea Hirata, tentang kisah Lintang yang harus menempuh jarak 80 km dengan bersepeda untuk mencapai sekolahnya. Dan, laki –laki ini pun demikian. Dia bahkan tak punya sepeda. Dia berjalan kaki puluhan kilometer, sambil memanggul pelepah batang kelapa yang dikeringkan dan kayu –kayu kering untuk di jual. Hasil penjualan kayu –kayu itu digunakan untuk biaya sekolah, sebab orangtua nya tak bisa membiayai.
Setiap hari, laki –laki ini berangkat setelah subuh, dan pulang malam. Berjalan kaki. Tak pernah mengeluh. Walaupun tapak kaki nya sudah lepuh lebam menandakan kerasnya perjuangan hidup yang telah dilakukannya.
Kelak, laki –laki ini lulus sekolah dengan nilai yang menakjubkan. Dan, karena otaknya yang cerdas, ia mendapat beasiswa Pendidikan Guru SD dari pemerintah (semacam sekolah ikatan dinas). Bersekolah gratis, diberi penginapan sederhana, dan uang saku yang pas –pasan.
Setelah lulus pendidikan guru, laki –laki ini ditempatkan mengajar di sebuah desa di pedalaman yang sangat terpencil. Tapi dia menjalaninya tanpa protes. Dia menyenangi pekerjaannya sebagai guru SD. Baginya, senyum para murid adalah pengobat hati dikala ia merasa sedih dengan beban hidup yang kian menghimpit.
Gaji yang diterima waktu itu, jauh dari standar cukup. Bahkan bisa dibilang tidak manusiawi. Profesi guru belum mendapat perhatian dari pemerintah. Dimana –mana, para guru hidup dengan melarat dan diejek oleh para kuli. Setiap laki –laki ini berjalan melewati tukang ojek dan becak, meledaklah ejekan. “Lah..apaan guru, gajinya sebulan sama dengan penghasilan kita sehari”. Begitulah. Gaji guru sebulan memang sama dengan penghasilan tukang ojek sehari waktu itu. Mengenaskan.
Tapi laki –laki itu tak pernah menyerah. Tak sedikitpun putus asa. Walaupun setiap melewati para tukang becak itu menahan tangis dan hati yang teriris –iris, namun jiwanya tetap menguat sekeras baja. Meskipun dalam hatinya, ia menangis sedih.
Saat ditanya, kenapa ia bisa sekuat itu, ia hanya menjawab sambil tersenyum lugas; bahwa ia ingin mempersembahkan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya nanti, bagi generasi sesudahnya nanti. Yah, harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi kita. Meskipun dia sendiri mungkin kelak tak akan bisa menikmatinya.
Dan sekarang, laki –laki itu bisa tersenyum bahagia melihat para generasi sesudahnya dapat lebih menghargai profesi guru. Dan lebih dari itu, dia dapat tersenyum bahagia karena bisa menyekolahkan anak –anaknya sampai tuntas.
Tahukah kalian, siapa laki –laki itu?
Ya, laki –laki itu adalah pahlawan sejatiku.
Laki –laki yang paling kucintai dalam hidupku.
Yang padanya, tak kan bisa kubalas apapun yang telah dilakukannya.
Yang padanya, kasih dan cinta itu seperti udara yang tak ada habis –habisnya.
Yang padanya, tulisan sebanyak apapun tak kan bisa menggambarkan kekuatan jiwanya.
Laki –laki itu adalah ayahku.
Ayahanda terbaik sedunia.


April 22, 2008 pada 1:34 am
Tenang ajah…
Selama ayahnya ga ngaco, sapapun akan menganggap ayahnya seorang pahlawan…
setidaknya saat kecil..
April 22, 2008 pada 1:47 am
yupe…

setiap ayah adalah pahlawan untuk putra putrinya
eh, benar juga koment di atas, ada pula yang ngaco
arghhh…
April 22, 2008 pada 1:48 am
Jadi inget ayah…….
April 22, 2008 pada 6:02 am
makasih ya diriku juga jadi ayah yang banting tulang menghidupi keluarga..
April 22, 2008 pada 8:03 am
hiks …terharu…
April 22, 2008 pada 9:41 am
kiwah…cerita yang mengharukan. btw kapan punya pacar?
*ditabok mbak mina*
April 22, 2008 pada 9:45 am
jeh…komenne salah…kok ada 2 hurup nyasar ya?
mbak, tolong apusi 2 hurup awal..
April 22, 2008 pada 10:17 am
pahlawan terbaikku adalah bundaku
April 23, 2008 pada 4:48 pm
pahlawanku.. hmmm siapa ya?
agak butuh banyak pemikiran dan ga bisa dengan mudah jawab jadinya.
maklum, agak punya basic hostility dulunya heheh
ah… ga punya pahlawan juga gapapa mungkin ya?
April 24, 2008 pada 7:09 am
April 24, 2008 pada 8:22 am
Terbukti
secara klinis! Bahwa ilmu adalah harta karun terpendam yg kelak berguna di masa depan.Hmm,, tapi rasanya aku belum punya pahlawan yg berpengaruh dlm hidupku.
April 24, 2008 pada 3:20 pm
Pahlawanku siapa yak??
Ini lagi disamping saya..
April 25, 2008 pada 6:49 am
Saya seringkali heran, orantua yang jujur, rendah hati, ikhlas dan apa adanya seringkali memiliki anak2 yang juga berhati lapang dan nggak neko-neko juga.
April 26, 2008 pada 3:11 am
Yang pentting bukan pahlawan kesiangan heheheh
April 29, 2008 pada 2:25 am
subhanallah
daku amat terharu
lalu, aku lagi2 rindu ayahku
ayah yang begitu tegar
dan kami jarang sekali bisa berkumpul
karena jarak
ya, demi sesuap nasi
semangat ya sahabat!
April 29, 2008 pada 12:19 pm
pahlawan gue adalah diri gue sendiri… alagh, narsis banget gue!
btw, knp g dtg kmrn?
April 30, 2008 pada 1:28 am
jika ngga ada pahlawan kayaknya ngga seru deh hidup kita….
Mei 6, 2008 pada 10:41 pm
boleh juga…
salam kenal…
tukeran link dong?
Mei 8, 2008 pada 5:17 am
Ah ini postingan menyentuh sekali …
Terima kasih ya mengingatkan …
I love you Dad …
Mei 10, 2008 pada 6:34 pm
dad is a hero for me
Mei 11, 2008 pada 10:41 am
my father is the best
Mei 11, 2008 pada 2:41 pm
ayahku dah meninggal waktu umur 5 tahun…. euh…
Mei 14, 2008 pada 1:56 am
setuju mbakyu…
ayahku… ok deh!
Mei 14, 2008 pada 4:23 am
*kagum*
Pejuang sejati.