Anak -anakku
Maret 14, 2008
Apa yang bisa kita pikirkan tentang makhluk mungil ini, dan apa yang kerap memenuhi pikiran mereka saat melihat orang dewasa? Apakah hanya imajinasi yang meloncat menembus kesadaran kita, dan mereka sanggup memvisualisasikan apa yang tak pernah kita bayangkan dengan cara mereka sendiri yang unik?
Dan kitapun, sebenarnya memiliki semua itu dulu –dulu sekali, yang telah jauh kita tinggalkan karena kita merasa bahwa kita telah dewasa sehingga harus berpikir lebih logis dan realistis. Kita telah banyak melupakan apa yang kita pikirkan saat masih kanak –kanak.
Saat ini, dalam perjuangan keras kehidupan aku banyak belajar dari mereka. Bahwa dalam dunia dan pemikiran mereka banyak hal yang indah. Yang bahkan bisa melambungkan semua imajinasiku mengenai kebahagiaan menjadi seorang perempuan.
Aku bersyukur, masih bisa melihat tawa dan kebahagiaan anak –anak Indonesia di sini. Membuatku merasa ingin tetap bertahan, dan terus hidup untuk membuat dunia yang lebih baik bagi tempat tinggal mereka. Sebab merekalah yang nanti akan menjadi penerus peradaban kita. Di suatu masa, di masa depan nanti…
Aku bersyukur. Sebab di dunia ini, masih ada anak –anak yang bisa tersenyum bahagia dengan bebasnya sambil berlari –lari dan memanggil namaku, “ibuuu…ibu…”.
Karena di bagian dunia yang lain, ada anak –anak yang tak seberuntung itu. Yang mereka lihat hanya kematian, tangis, darah, dan peperangan. Masa –masa indah mereka telah dirampas dengan paksa.
Anak –anakku yang baik,
Kalian bukan anak –anakku,
Bukan juga anak –anak orang tua kalian
Tetapi kalian adalah milik peradaban.
Kalian akan melesat jauh meninggalkan kami dengan dunia kalian sendiri, yang tak kan pernah bisa kami jangkau.
(terinspirasi dari kutipan Kahlil Gibran).


Maret 14, 2008 pada 7:55 am
Hmmm …
Suatu perenungan yang menyentuh …
Salam teh …
saya datang berkunjung kembali …
(*read*) stamp !
Maret 14, 2008 pada 8:29 am
Ooo… Ganti nama jadi ibu ya…
Anak-anak memang selalu mengagumkan…
Maret 14, 2008 pada 8:58 am
Saya jadi pengen kawin…
(apa? nikah? huahahaaa….)
Maret 14, 2008 pada 11:32 am
yah.. ngarana ge anak-anak, ma’ .. ulah dicarekan lah, kumaha eta budak we.. untung masih leutik keneh, ngke mun geus baligh mah geus nyaho yeuh nagara loba nganjuk.. wehehehehe
ngomong naon sayah barusan ya
Maret 14, 2008 pada 11:58 am
wogh! mbak mina anaknya banyak!
Maret 14, 2008 pada 12:43 pm
*ngakak dulu baca komeng cK*
Well.. anak-anak itu adalah plagiator paling giat di muka bumi ini. Apa-apa aja yang dia lihat pasti akan ditiru. Betul?
Teh Mina…
Teruslah jadi panutan yang baik bagi anak-anak, pun kelak nanti saat mendidik anak-anak sendiri . .
*berlagak sok kolot*
Maret 14, 2008 pada 3:19 pm
jadi inget SD…
*ingetdikitlagiUN*
Maret 14, 2008 pada 5:42 pm
saya mau tanya.. itu anak2 nemu dmn?? nanti klo ada lagi saya minta satu yah…
*diinjek*
Maret 15, 2008 pada 12:26 am
hmmm kahlil gibran ya..
khalil gibran made beautiful poems, but not all the time they are right.
Maret 15, 2008 pada 2:54 am
anak saya milik saya.. orangtuanya, yang memberi nafas, memberi pengetahuan dan bekal hidup,..
Melepasnya ke langkah hidupnya agar ia bisa menaklukan peradaban dan bersyukur atas nama Tuhan
Maret 15, 2008 pada 5:56 am
–nh18-
terima kasih, pak ^^;
silakan berkunjung kapan saja
-pak adit-
saya tidak ganti nama kok
-effendi-
Hehe..
ya menikahlah !
-mas brain-
sumuhun, masih aralit keneh eta barudak teh.
keun we, sina terangeun anu saleresna kondisi nagarana tea..
leres teu?
-cK-
tentu saja
-kang gie-
betul sekali.
iya, doakan saya agar menjadi ibu yang baik bagi anak -anak saya nanti ya…
-moerz-
bukannya sekarang moerz juga masih anak -anak?
*kabur*
-malecious genius-
nemu di sekolah, mas.
Ah, ga bisa saya kasih. Nanti ortunya marah dong. Mas genius bisa cari sendiri di sekolahan. caranya? ya jadi guru
-hanggadamai–
memang betul
-mas iman-
wah, kutipannya beda ya, dari orang yang sudah berpengalaman.
*catat*
Maret 15, 2008 pada 10:06 am
mbaks mina anaknyah banyak?

apa gak gempor?
*dicambuk*
Maret 15, 2008 pada 2:04 pm
duh senangnya,…
punya anak banyak
Maret 16, 2008 pada 11:04 am
–abeeayang–
gempor? maksudnya gempor apa ya?
–pak kakanda-
iya dong
Maret 16, 2008 pada 11:40 am
Suatu saat mereka juga akan seperti kita, kami, atau mereka…
Maret 20, 2008 pada 4:05 am
Puisi Kahlil Gibran itu
Lagi2 kutemukan
Maret 20, 2008 pada 6:30 am
jadi pengen punya anak…. *celingak-celinguk cari calon istri*